Suara letakan barang yang tadi masih ibu bereskan, sekarang tidak terdengar lagi, mungkin ibu telah selesai membereskannya, sementara gerutu Syifa atas kekesalannya semakin menjadi-jadi "sampai saat ini, ibu belum memanggilku, sama sekali tidak menghiraukan aku, padahal aku tadi menutup pintu dengan sangat kencang" pikiran Syifa yang juga sedikit-sedikit mencari perhatian. Tidak lama kemudian, seperti dari dapur terdengar suara yang Syifa sangat tahu bahwa Ibu sedang memasak sesuatu dan Syifa melihat Jam dilayar smartphone nya, memang biasanya jam segini Ibu menyiapkan makan siang, kemudian Syifa memejamkan mata kembali dan melanjutkan pemuasan ego nya.
Suara kaki terdengar mendekat ke arah pintu kamar Syifa dari luar, dan ibu yang sudah tahu tentang Syifa yang sedang merajuk mengajak makan "Syifa ayo makan dulu, Ibu sudah memasak udang goreng, makanan kesukaanmu Nak, ayo makan dulu" ucap ibu dari luar dengan suara yang penuh kasih sayang, tapi Syifa tidak menjawab dengan sepatah katapun. Berselang beberapa menit, terdengar tangisan adik yang dirasa sangat mengganggu Syifa serta ibu yang membujuknya yang sangat membuat Syifa cemburu, "adik manja sekali, ibu terlalu berlebihan kepada adik" gerutu dalam hati Syifa. Ibu kembali mendekat dan mencoba membuka pintu kamar Syifa dengan tangisan sang adik, seperti sedang digendong Ibu, "Syifa sayang, Handphone Ibu lowbet, charger Ibu ada diatas meja belajarmu, buka pintunya sayang, Ibu mau menelpon ayahmu, ibu mau memberi tahu kalau adik sedang sakit" ucap ibu dari luar dan Syifa tidak menghiraukannya malah dalam hatinya berucap "aku tidak mau membuka pintu".
Pada saat ini, Syifa merasa cukup puas atas tindakannya, karena ibu sangat membutuhkan bantuannya, tetapi ia tidak menghiraukan semua itu, suara tangisan adik semakin kencang, anak dengan usia satu tahun itu menangis dengan tangisan seperti dicubit dengan keras berulang kali. Ibu masih mengetuk-ketuk pintu kamar Syifa, "Syifa buka pintunya, ibu pinjam handphone kamu, ibu mau menelpon ayah" pinta ibu dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya. "Syifa kasihan adikmu nak" pungkas Ibu. Tetapi di sini Syifa merasa menang, dan berucap dengan suara yang sangat kecil dari mulutnya "Ibu kasihan ke adik, tapi tidak kasihan padaku" setelah itu, Ibu tidak lagi mengetuk pintu, dan menjauh dari kamar Syifa, tetapi tangis adik sangat jelas masih terdengar dan tidak berhenti. Mendengar tangisan adik yang cukup lama dan suara bujukan ibu yang terus menerus, hati Syifa mulai tersentuh, ia mulai merasa kasihan pada Ibu dan adiknya, Syifa sudah menurunkan egonya sedikit, walaupun terkadang masih naik, tetapi sebenarnya ia menunggu Ibu kembali memintanya membuka pintu, ia menunggu dan ia akan mau jika ibu minta meminjam handphone-nya, jika ibu ingin mengambil chargernya. Tapi ibu tidak melakukannya lagi.
Kini Syifa terbaring di kasurnya, ia tengah memikirkan kelakuannya, ia menimbang-nimbang benar salah dalam dirinya. Kini yang paling ia ingat adalah pesan ibu yang menyuruh ia makan dan bersiap untuk Les sore nanti jika Ibu pulang terlambat. Ia mengingat bayangan Ibu yang menggendong adik dengan selimut dan perlengkapan bayi ditangannya, ia melihat jelas cara ibu menaiki motor dan pergi ke rumah sakit diantar tetangganya, yang Syifa lihat dari balik jendela kamarnya, peristiwa beberapa jam tadi sangat jelas mempengaruhi emosi Syifa, ditambah lagi belum ada kabar apapun tentang kondisi adik, sifat kasih sayang Syifa mendominasi dirinya, Kini Syifa mengkhawatirkan mereka.
Syifa yang masih belum beranjak dari kamar tidurnya ingin menyusl Ibu ke rumah sakit, ia merasa bersalah "andai aku tadi tidak merajuk, mungkin aku ikut bersama ibu dan adik" gumam Syifa "andai aku tadi tidak malu dan gengsi, aku ingin sekali mengejar mereka sebelum berangkat" sambung Syifa "apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka sudah sampai ke rumaha sakit? Apakah adik sudah ditangani dokter? Apakah ayah menyusul ibu ke sana?" Tanya dalam diri Syifa. Ditengah ketidak-pastian itu, dering handphone Syifa mengagetkan dirinya yang sedang setengah melamun, ia membuka matanya dan melihat dilayar handphone ada panggilan masuk dari ayahnya. Syifa dengan perasaan yang berkecamuk, cepat-cepat mengangkat panggilan masuk itu.
Syifa belum cukup puas mendengar kabar dari ayah lewat telepon tadi, tapi setidaknya Syifa tahu bahwa ayah sudah bersama ibu di rumah sakit, bahwa adik sedang ditangani dokter. Sesuai pesan ayah Syifa siap-siap untuk Les karena ayah telah menyuruh bibi untuk menemani Syifa, Syifa bergegas duduk kemudian mengambil beberapa buku catatan dan membuka-buka pelajaran kemarin. Dalam buku itu, Syifa menemukan suatu hadits yang menarik perhatiannya, Syifa membacanya kembali, hadits itu diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang berbunyi "Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit". hadits tersebut seolah-seolah menyinggung Syifa yang tengah merajuk dari tadi pagi, Syifa ingat betul penjelasan tentang hadits itu yang disampaikan oleh Ustadzahnya. Dalam perenungan Syifa dengan pelan membuka lembaran berikutnya, kemudian Syifa menemukan kembali Hadits yang lain dengan periwayat yang sama yang berbunyi “Ridho Allah SWT bergantung dari ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah SWT bergantung dari kemurkaan orang tua”. Seperti sebuah isyarat Ilahi yang direncankan, catatan-catatan Syifa kali ini menegur dirinya. Selain yang tadinya Syifa merasa bersalah atas kelakuannya, dua hadits yang ia temukan dari buku catatannya menegur dirinya, merubah pola pikir anak perempuan kecil itu, dengan apa yang telah ia lakukan saat ini, Syifa merasa takut berdosa.
Syifa, seorang anak perempuan yang baru kelas empat SD itu, kini menyiapkan alat belajarnya sendiri, sambil bersiap ia berdoa agar Tuhan mengampuni kelakuannya, ia merasa telah berperasangka buruk kepada orang tua terutama ibunya, ia merasa telah dzalim kepada adiknya, sambil bersiap, ia berharap segala kebaikan menghampiri keluarganya, ia berharap adiknya sembuh kembali, ia benar-benar menyesali perbuatannya dan berniat tidak akan mengulanginya lagi. Ketika selesai Les nanti, Syifa tidak ingin menginap kerumah nenek atau menyusul keluarganya ke rumah sakit seperti yang ayah pesankan lewat telepon tadi, tapi Syifa berharap ibu, ayah dan adiknya pulang ke rumah dan tidak terjadi satu hal apapun yang tidak diinginkan. Syifa sudah bersiap, ia menunggu bibi datang dan menunggu semua kabar baik dari ayah, ibu dan adiknya, Syifa mencoba tegar dengan segala yang terjadi, dan berniat menyelesaikan tugasnya hari ini dengan perbuatan yang positif.
Oleh: Wawan Sutaji
