Beranda Literasi- Islam adalah agama mayoritas di Indonesia yang membuat Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Dengan demikian, Islam memiliki banyak keuntungan dalam berbagai hal termasuk meningkatkan kualitias SDM masyarakat Indonesia. Mengingat untuk meningkatkan SDM suatu masyarakat dapat dibentuk dari berbagai aspek seperti moral, etika serta rasionalitas, artinya peningkatan SDM tersebut tidak harus serta merta dilakukan oleh pendidikan formal belaka. Di sini kita akan mengukur sejauh mana kontribusi Islam dalam membangun SDM Indonesia dalam pandangan teori ruang publik dan rasionalitas komunikatif Jürgen Habermas.
Perhatian tentang pentingnya ilmu, etika dan tanggung jawab sosial bagi seorang muslim menurut Nabi Muhammad SAW adalah suatu kewajiban, dan ini merupakan suatu konsep yang berjalan lurus dengan upaya modern untuk membangun manusia yang kreatif, berpengetahuan dan memiliki daya saing. Perhatian Islam juga tertuju pada akhlak dan amal saleh meskipun nilai luhur itu belum terwujud secara optimal dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan terdapat kesenjangan sangat jauh antara ajaran Islam yang Ideal dengan tingkah laku masyarakat yang diakibatkan oleh kualitas pendidikan yang rendah, budaya riset yang lemah dan terlalu banyaknya praktik korupsi, dan ini menjadi bukti kegagalan komunikasi sehat antara masyarakat, agama dan negara.
Rasionalitas komunikatif dalam pandangan Habermas itu sangatlah penting untuk membangun masyarakat yang demokratis dan maju. Dalam upaya mencapai pemahaman bersama, warga seharusnya berdiskusi secara rasional di ruang publik yang selama ini hanya menjadi arena berebut kekuasaan. Ruang publik yang sehat akan memungkinkan keterlibatan berbagai pihak misalnya ulama, pemerintah, akademisi dan masyarakat sipil dalam mendiskusikan berbagai isu (kesehatan, pendidikan, moralitas dan teknologi), dengan demikian pembangunan SDM sudah mulai dilakukan. Tapi sejauh ini, ruang publik kita terdistorsi oleh kepentingan-kepentingan politik yang membuat Islam disulap jadi alat politik dan bukan sebagai sumber nilai yang kaya dalam meningkatkan kualitas SDM masyarakat kita. Sehingga perdebatan yang timbul dalam ruang publik kita jauh dari akar masalah yang kita hadapi dan bagaimana cara mengatasinya.
Politik Identitas menjadi hambatan besar dalam membangun SDM Masyarakat kita, agama sejauh ini hanya menjadi alat legitimasi politik yang membuat masyarakat kehabisan energi karena polarisai bukan untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat. Habermas menyebut ini sebagai Kolonisasi ruang publik oleh kepentingan politik. Akibatnya yaitu tersingkirnya nilai-nilai Islam dari perdebatan publik dan tetjadinya isu-isu ideologis yang sempit menggeser isu ilmu pengetahuan, etika sosial dan transformasi.
Walaupun begitu, Potensi Islam dalam pembangunan SDM untuk masyarakat kita masih sangat besar. Organisasi kemasyarakatan ke-Islaman seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah cukup bisa dibilang mendukung kemajuan SDM, dengan berupaya mendirikan sekolah, universitas dan rumah sakit yang sejauh ini berkontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Inisiatif Islam dalam bentuk pendidikan tersebut menurut kerangka Habermas merupakan komunikasi rasional antara kebutuhan masyarakat modern dengan nilai agama. Islam mampu menjadi sumber inspirasi moral dengan mengedepankan etika, inkluisivitas serta prinsip keadilan yang akan memperkuat SDM di Indonesia tanpa harus meninggalkan rasionalitasnya sendiri.
Agama bukan tidak boleh hadir dalam ruang publik menurut pandangan Habermas, tapi harus menyesuaikan diri dengan cara mengkonversi nilai-nilainya ke dalam bahasa rasional agar dapat diterima oleh semua pihak. Diskursus Islam tentang pendidikan, kesehatan dan dan etika kerja harus mampu menyentuh semua elemen masyarakat serta meningkatkan kesesuaian kurikulum, mempermudah akses pendidikan, pemahaman digital, profesional dan berintegritas. Sehingga Islam menjadi kekuatan normatif yang dapat memperkaya deliberasi publik dalam menciptakan masyarakat yang unggul. Atas dasar demikian Islam tidak lagi terbatas sebagai suatu identitas kelompok. Jika ini terjadi, maka Islam mampu mengubah SDM masyarakat kita menjadi berkarakter, cerdas secara intelektual, berintegritas dan dapat bersaing di tingkat global.
Islam berpotensi sangat besar untuk mewujudkan Manusia yang berilmu, beretika dan berdaya saing, masalahnya hanyalah bagaimana nilai Islam berartikulasi dalam wilayah ruang publik, karena ruang publik kita selalu teridistorsi oleh kepentingan politik identitas yang membuat konstruktif nilai-nilai ke-Islaman tidak dapat berkontribusi secara maksimal. Habermas menyajikan solusi terhadap masalah ini yaitu dengan membangun komunikasi publik, inklusif serta deliberatif. Agama harus hadir dengan menyesuaikan diri agar dapat terfahami oleh masyarakat luas, dengan begitu islam lebih berperan besar dalam membangun kualitas SDM masyarakat yang lebih maju serta tangguh dalam menghadapi tantangan global.
Wawan Sutaji

OMBI
BalasHapus